Jumat, 24 Oktober 2014

NOVEL DETEKTIF KEMBAR SEASON 1

                                                                       MESIN WAKTU KITA
            Hari kemerdekaan Indonesia telah berlalu. Kini saya dan adik saya pergi ke rumah prof. Adam. Sesampainya saya dan adik saya di rumah professor Adam,  saya dan adik saya melihat professor Adam sedang membuat suatu penemuan baru. Saya pun bertanya kepada prof. Adam “professor sedang buat apa?”. Professor mejawab “professor sedang buat penemuan yang belum pernah ada di dunia yaitu mesin waktu. Saya dan adik saya terkejut dengan ucapan professor Adam. “prof. boleh kami bantu membuat ?” kata Adun. “Oooh, boleh boleh”. Kami berdua pun ikut membantu professor membuat mesin waktu.
            Keesokan harinya, saya dan adik saya pergi ke kampus. Sesampainya kami di kampus, kami melihat banyak orang yang sedang nge gossip. “kalian lagi gosipin apaan sih ?” Tanya saya. “ni, lihat nih di Koran, si James Ld. Dan Professor Dedi berhasil membuat sebuah mesin waktu.” Jawabnya. Mendengar berita itu, saya dan adik saya curiga sama James dan Bapaknya. Kita berdua berfikir kalau si James merampas mesin waktu punya professor Adam.
            Sepulangnya kuliah, kami berdua langsung pergi ke rumah professor Adam. Sesampainya di rumah professor, kami melihat professor Adam yang diikat di kursi dan mulutnya di tutup. Kami berdua, mencoba membuka ikatan di kursi, tapi apa daya, ternyata tali itu dilapisi lisitrik penguat, yang apabila di sentuh, akan tersentrum. Saya pun mencoba membuka ikatan itu dengan lasser MJic, dan alhamdullilah tali ikatan itu terlepas. Tapi professor masih dalam keadaan lemas akibat sentruman listrik di tali itu. Kami berdua pun membawa professor ketempat tidurnya untuk istirahat. Setelah kami berdua membawa professor ke tempat tidurnya, kami berdua kembali untuk mencari mesin waktu professor Adam. Ketika kami cari-cari, kami tidak menemukan mesin waktu itu lagi. Dan kecurigaan kami pun terjawab, kalau James La Ode dan Bapaknya telah merampas mesin waktu professor Adam, dan membuat berita di berbagai media, kalau merekalah pencipta asli mesin waktu itu.
            Keesokan harinya, kami berdua pergi ke rumah professor untuk menanyakan siapa yang mencuri mesin waktu professor adam. Setibanya kami berdua di rumah professor Adam, kami melihat professor masih agak sedikit lemas akibat sentruman. Saya dan adik saya pun bertanaya “prof., kalau kami boleh tau, siapa yang menyakiti professor dan siapa yang mencuri mesin waktu itu ?”. professor itu menjawab “yang mencuri mesin waktu itu adalah segerombolan robot-robot yang di kepalanya bertanda “DD””. Kami berdua pun ingin mencari tahu, siapakah robot-robot yang bertanda DD.
            Keesokan harinya, kami berdua mulai mencari tahu siapakah pencipta robot yang bertanda DD itu. Saya dan Adik saya membagi tugas untuk mencari pencipta robot itu. Saya mencari tahu dengan bertanya-tanya kepada para ahli robotic. Sedangkan adik saya mencari tahu dengan men-search ke internet. Waktu ke waktu terus berjalan, saya dan adik saya belum juga menemukan siapakah penemu robot itu. Malam pun telah tiba, saya pun belum menemukan siapakah pencipta robot itu. Tiba-tiba, Adun melelpon saya, ternyata Adun telah menemukan siapa penemu robot itu. Dan ternyata, penemu robot itu adalah professor Dedi.
            Keesokan harinya, kami berdua pergi ke laboratorium professor dedi untuk meminta kembali mesin waktu professor Adam tersebut. Sesampainya kami berdua di laboratorium prof. Dedi, kami berdua langsung di hadang oleh robot-robot DD tersebut. Kami berdua pun tidak bisa lagi apa-apa dan terpaksa kami berdua harus masuk ke dalam ruangan penjara professor Dedi. Didalam penjara, ternyata banyak tahanan  tak bersalah yang di kurung. Kami dan para tahanan yang lainnya mencoba terus-menerus agar pintu sel itu terbuka.
            Tiga jam telah berlalu, tetapi pintu itu tetap tak bisa terbuka. Kami semuanya sudah lelah sekali. Kami berdua pun memikirkan ide bagaimana bisa keluar dari sel ini. Adun pun mempunyai ide, ia akan menelepon prof. Adam dan memberitahuinya bahwa kami di kurung di dalam penjara Prof. Dedi. Kami berdua pun menelpon Prof. Adam, tapi belum ada jawaban sama sekali. Kami berdua pun mencoba sekali lagi, dan ternyata tersambung. Dan kami berdua pun meminta agar kami semua dapat bebas dari penjara ini. Selang beberapa waktu, professor Adam datang dan langsung membebaskan kita semua.
            Kami semua akhirnya bebas dari penjara itu. Dan dengan diam-diam, kami semua merencanakan hal licik agar dapat mengambil kembali mesin waktu prof. Adam dan menangkap James La ode dan juga bapaknya. Kami semua pun mulai berpencar ke seluruh area laboratorium. Dengan berbekalkan senjata dan tameng anti peluru, kami berhasil juga mendapatkan mesin waktu prof. Adam. Tapi sayang, kami semua tidak melihat dimana Prof. Dedi dan anaknya. Pencarian itu, akan kami lanjutkan esok hari.
            Keesokan harinya, kami berdua dan prof. Adam, mulai mencari keberadaan Prof. Dedi dan James La Ode . kita membagi tugas, saya dan Adun mencari di Laboratorium dan Prof. Adam di  rumah kediaman Prof. Dedi dan anaknya. Ketika kami berdua mencari-cari di sekitar laboratorium, kami melihat kaca di bagaian atas laboratorium itu pecah dan di duga pecahannya di karenakan sinar laser, karena pecahnya kelihatan sangat rapi. Kami berdua pun mencurigai, kalau professor Dedi dan James Ld kabur lewat di kaca bagian atas. Saya pun melelpon Prof. Adam tentang dugaan ini. Kami berdua pun kembali  menyelidiki tentang kaburnya Prof. Dedi dan anaknya lewat jendela, dan kami menemukan sedikit bercak darah di bagian bawah candela, di duga akibat terjatuh dari ketinggian. Bercak darah tersebut, menunjukan suatu arah yaitu di sebuah rumah tua dekat  laboratorium. Kami berdua pun pergi ke rumah tua tersebut. Setelah kami sampai di rumah tua, bercak darah itu hilang. Dan dicurigai kalau mereka  menghapus bercak darah itu di rumah tua ini. Tiba-tiba, kita berdua langsung tertangkap oleh jaring yang dipasang untuk menangkap kita berdua “professor yang liccccik” ungkap saya dalam hati. Terpaksa, kami berdua kembali ke penjara Professor Dedi. Untung, saya masih menyimpan handphone agar kami dapat menelepon Prof. Adam.
Ketika professor Adam tiba di laboratorium, terjadi baku tembak, dan akhirnya Prof Dedi dan James La Ode berhasil di tembak kepalanya dan ditangkap oleh prof. adam dan kita berdua berhasil di bebaskan.

Keesokan harinya, saya ,Adun dan professor Adam, pergi membawa Professor Dedi dan James La Ode ke penjara. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar